Judul novelnya mengingatkanku pada film Pengabdi Setan. Sebelum menemukan buku ini, saya sudah menonton film itu. Jenis huruf pada judulnya dan gambar cover-nya membuat saya menduga penulis dan desainer cover-nya terinspirasi dari sana. Baca resensi ini ya, agar tahu apakah kehororannya sama dengan film Pengabdi Setan.
A. Identitas Buku
Judul : Pengabdi Cilok (cintamu tak sekenyal cilokku)
Penulis : Iwok Abqary dan Irvan Aqila
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Kota terbit : Jakarta
Tahun terbit : 2018
Tebal : 208 hlm. (196 hlm. Isi)
Ukuran : 13,5 × 20 cm
Warna kertas : Krem
B. Blurb
C. Unsur-Unsur Instrinsik
Subgenre : Komedi, teenlit, romance
Tema : Perjuangan, Petualangan
Tokoh-tokohnya :
1. Bone: cinta mati pada cilok, kelas XII jurusan IPA, anak bungsu, ganteng, bisa mengendarai mobil, pernah membuat perempuan menangis
2. Ojos: ART keluarga Bone, nyeselin
3. Ayah Bone: hitam, seram
4. Ibu Bone: cantik, manis
5. Yuyun: ART keluarga Bone, jago bikin cilok
6. Bi Cicih: pemilik warung cilok
7. Jeri: sahabat dekat Bone, anak kos
8. Robi: ketua OSIS
9. Annisa: teman SD Bone yang tukaran bekal dengan Bone, cantik
10. Nadine: cantik, suka Bone
11. Jujun: teman Ojos, anak Mak Petir, kekar, mantan preman
12. Mak Petir: penjual cilok, pengidap asma
Setting tempat : Bandung
POV : POV 1 (gue-lo)
D. Kutipan
"Kalau murah, lantas kenapa? Menurunkan gengsi? Selera nggak ada hubungannya sama gengsi, cuy!" (hlm. 24)
"Menolak rezeki itu dosa, apalagi menolak sebungkus cilok." (hlm. 35)
"Tugas lebih penting daripada sekadar cewek. Lagi pula, cewek cakep buat gue hal biasa, kecuali kalau dia jago bikin cilok." (hlm. 63)
"Cilok lebih penting daripada tugas apa pun di sekolah." (hlm. 63)
"Nak Bone nggak bisa nyalahin Jujun atau Emak. Ini, kan, salah Nak Bone sendiri, karena sudah bikin sayembara kayak gitu. Wajar dong harus ditepati janjinya. Janji adalah utang. Sampai mati kamu teh bakalan dikejar dosa kalau tidak menepatinnya." ~ Mak Petir (hlm. 103)
"Emak bukan tipe perempuan pencemburu. Malahan Emak rela kalau nanti Nak Bone niat poligami." ~ Mak Petir (hlm. 110)
"Eh, kamu jangan mentang-mentang banyak duit, ya. Hargai Emak dikit dong. Ini belanjaan Emak, jualan Emak, jangan sok baik dan ngatur semaunya." ~ Mak Petir (hlm. 120)
"Be—begini, Pak Guru ... ja—jadi, yang punya utang i—itu ... namanya Kang Jujun. Nah, Dek Bone katanya ca—calon bapaknya Ka—Kang Jujun. Ja—jadi, saya disuruh na—nagih utangnya ke Dek Bone. Gitu, Pak." ~ si mamang (hlm. 130)
"Meskipun kisah kalian berakhir singkat, setidaknya lo harus meninggalkan kesan positif di mata Mak Petir, Bon. Ya jangan kasih kesan bahwa lo lelaki bajingan, yang habis manis sepah dibuang. Setidaknya kasihlah seikat mawar sebagai kenang-kenangan, dan sebagai kesan bahwa lo sebetulnya nggak mau hubungan ini berakhir." ~ Jeri (hlm. 138—139)
"Langkah mereka sudah tidak searah. Hati mereka sudah tidak bertaut. Percuma kalau memaksakan hubungan ini terus dilanjutkan. Akan ada hati yang terluka. Akan ada jiwa yang menganga." - Jeri (hlm. 142)
"Kamu percaya nggak? Bagi aku, makanan ini nggak ada apa-apanya dibanding cilok Mak Petir. Mmm, apalagi kalau ciloknya kamu yang bikin; pasti juara. Makanan seenak apa pun, lewaaat ...." (hlm. 152)
"Bagaimanapun, selama ini Nadine udah banyak membantu urusan gue dengan Mak Petir. Gue nggak mau dia jadi benci sama gue. Kalaupun perasaan gue berubah lantaran dia nggak bisa bikin cilok, nggak semestinya gue memperlakukan dia seperti ini." (hlm. 159)
"Yes, I know, ini memang hak lo. Tapi, please, jangan kasar gini dong caranya. Jujur ya, sebagai sahabat, gue nggak suka lihat cara lo." ~ Jeri (hlm. 164)
"Cilok mah gampang dibeli, Bon. Di mana-mana juga banyak yang jual. Tapi, coba lo lihat Nadine, apa lo tega ngejauhin dia dengan cara seperti ini? Seenggaknya dia berhak mendapat penjelasan dari lo." ~ Jeri (hlm. 168)
"Mungkin dia beneran sakit, dan ini akan jadi kesempatan lo buat minta maaf sambil memanfaatkan momen." ~ Jeri (hlm. 174)
"Emak nggak tahu benar atau salah. Itu hak Nak Bone. Tapi ... kalau menurut Emak mah ... soal urusan hati ... tidak bisa dibebankan banyak persyaratan, seperti dulu Emak mencintai sosok almarhum suami Emak ... bening apa adanya. Emak tidak pernah mensyaratkan apa-apa, seperti harus begini harus begitu, sebab ... cinta, ya cinta, ia tidak pernah bersyarat." ~ Mak Petir (hlm. 196—197)
Kutipan lainnya saya unggah di Twitter saya (Poetree Malu). Cari saja dengan #PengabdiCilok.
E. Sampel Cerita
F. Sinopsis
Novel ini diawali dengan perkenalan Ojos, ART (Asisten Rumah Tangga) yang membantu ART lain. Namun, dia pasti akan membuat kesalahan yang bikin tokoh utama (Bone) gemas. Lalu, perkenalan keluarganya. Ayah Bone hitam seram, berbanding terbalik dengan ibu dan saudara-saudara Bone, tak terkecuali Bone sendiri.
Bone merupakan murid kelas XII jurusan IPA. Dia mengambil jurusan itu karena seorang perempuan. Namun, akhirnya laki-laki itu menyesal. Kejomloannya selama ini dijadikan bahan bully saudara-saudaranya. Tawaran Yuyun ditolak, padahal pembantu ke-2 di rumah Bone itu jago bikin cilok, sesuai kriteria pacar Bone.
FYI, awalnya Bone tidak suka cilok. Namun, sejak teman SD-nya membawa bekal itu, dia jadi cinta mati pada cilok. Namun, meski begitu, pacarnya harus cantik juga.
Suatu hari sebelum berangkat ke sekolah, Bone kesal dengan tingkah Ojos. Lalu, dalam perjalanan ke sekolah, dia mampir ke warung Bi Cicih. Saat pertama kali ke sana, dia dikira artis oleh Bi Cicih.
Sebelum pulang sekolah, Bone istirahat di taman sekolah. Tiba-tiba Novi memberinya cilok. Jeri, sahabat dekat Bone, memukul Bone karena membuat perempuan itu menangis. Setelah Bone mencicipinya, dia mengajak sahabat dekatnya itu mencari Novi.
Setelah menemukan Novi, Bone menanyakan tempat penjual ciloknya. Namun, Novi mengajaknya berputar-putar, membuat Bone gemas dan hendak pergi. Akan tetapi, tiba-tiba seorang perempuan menanyakan cilok kepada Novi. Novi kabur, lalu Bone jujur kepada teman Novi itu. Setelah mendapat ganti rugi, perempuan itu mengaku dirinya menemukan ciloknya di bangku taman.
Di rumah, tiga kakak Bone bingung dengan sikap Bone. Setelah Bone menceritakan masalahnya, mereka menertawakannya, lalu memberi saran kepada Bone. Sarannya bagus sekali, tetapi memalukan dan horor bagi Bone. Keesokannya, Bone mengutarakan ide itu ke Jeri. Jeri menolak untuk membantunya. Namun, setelah disogok, dia langsung berubah pikiran.
Sepulang sekolah, Bone ke indekos Jeri. Mereka akan membuat pamflet pencarian pembuat cilok di bangku taman kemarin. Hadiahnya HP (jika pembuatnya laki-laki) atau jadi pacar Bone (jika pembuatnya perempuan).
Setelah dua hari pamflet Bone disebar di sekolah, Robi si ketua OSIS menyeret Bone untuk menunjukkan kekacauan di ruang OSIS, bahkan ada orang-orang di luar sekolah. Lalu, Bone ingat bahwa hari ini adalah jadwal audisi pencarian pemilik cilok misterius. Dia baru tahu bahwa nanti siang akan ada rapat OSIS. Untungnya Robi bisa diajak bicara.
Saat audisi berlangsung, Bone izin ke kamar mandi manakala menghadapi laki-laki pentolan anak IPS. Dua jam kemudian, dia kesusahan menghadapi perempuan yang membawa banyak bungkus cilok. Saat menjelang asar, Bone dan Jeri bertemu Annisa, teman SD Bone yang tukaran bekal dengan Bone. Setelah perempuan itu pamit dan memberikan nomornya kepada Bone, Bone dan Jeri menemukan sebungkus cilok. Terdapat catatan di sana, yang intinya sekarang dia mules. Setelah Bone mencicipi ciloknya, benar, cilok itu yang dicari-carinya selama ini.
Keesokannya, saat sedang menyalin tugas di kelas, teman sekelas Bone memberi tahu Bone ada perempuan cantik yang ingin bertemu dan tampak menenteng cilok. Nadine, perempuan ini mengaku dirinya adalah orang yang menaruh cilok di depan ruang OSIS kemarin. Setelah cilok yang dibawanya dicicipi Bone, ternyata benar itu cilok yang Bone cari. Sayangnya, bukan Nadine yang membuat cilok itu, padahal Bone sudah berharap pembuatnya adalah dia. Lalu, Nadine memberi tahu nama desa tempat mangkal penjual cilok itu, Cilok Petik namanya. Saat dia pamit pergi, Bone meminta nomornya.
Saat Bone bertanya kepada Jeri tentang keberadaan Desa Bojong Soang, Jeri tidak tahu lokasinya. Lalu, Bone ingat bahwa Ojos pernah cerita bahwa dirinya berasal dari desa itu. Dan itu terbukti. Setelah disogok, akhirnya Jeri mau diajak bolos. Pagi-pagi sekali Bone, Jeri, dan Ojos berangkat ke desa itu dengan mobil. Sesampainya di persawahan, mereka lanjut dengan jalan kaki, karena itu jalan satu-satunya dan tidak dapat ditempuh dengan mobil. Namun, sesampainya di SD Bojong Soang, mereka melihat jalan raya. Jeri yang kesal mengejar Ojos yang lari.
Oleh karena tidak ada yang menjual cilok, Bone mencoba bertanya kepada salah satu pedagang. Sayangnya, pedagang itu tidak tahu rumah Mak Petir, nama penjual ciloknya. Bone kaget saat mendengar sapaannya, masak dia pacaran dengan ibu-ibu? Lalu, dia teringat dengan tulisannya di pamflet, yang dia cari adalah pemilik ciloknya, bukan pembuatnya.
Bone langsung pamit pergi kepada pedagang itu saat situasi makin buruk. Pelariannya sungguh beruntung, karena mengarahkannya ke rumah yang beraroma Cilok Petir. Lalu, Bone teringat Jeri dan Ojos. Jeri dapat dikabarinya, tetapi tidak dengan Ojos.
Oleh karena panggilan Bone tidak mendapat balasan dari Mak Petir atau keluarganya, dia memanjat pagar agar suaranya lebih terdengar. Namun, tiba-tiba seorang bapak-bapak kekar menarik kakinya dan menuduhnya maling. Bone senang karena dirinya tidak salah rumah. Namun, akhirnya dia jatuh dan banyak orang lain yang berdatangan, bahkan ada yang mengusulkan untuk membakarnya. Setelah Bone ngompol, Pak RT datang. Tiba-tiba Ojos mendukung untuk membakar malingnya, sebelum tahu ada Bone di sana.
Setelah Jeri menengahi Bone dan warga, Ojos berpelukan dengan Jujun yang kekar, tetapi kulitnya lebih terang daripada bapak-bapak kekar yang menarik kaki Bone tadi. Lalu, Ojos memperkenalkan Bone kepada Jujun, begitu sebaliknya. Tiba-tiba Jujun mencengkeram dan membanting Ojos, lalu jingkrak-jingkrak senang.
Jujun anak Mak Petir. Dia datang pagi-pagi ke sekolah untuk menagih janji Bone tentang pencarian pembuat Cilok Petir. Di warung depan sekolah, Bone berdalih dirinya hanya iseng dan menegaskan bahwa yang dicarinya adalah pemilik cilok, bukan pembuatnya. Namun, menurut Jujun, pemilik cilok adalah pembuat cilok. Saat hadiahnya diganti HP unlimited, Jujun tidak mau.
Pada hari Sabtu, Bone dandan rapi. Radio yang dia dengarkan selama perjalanan ke suatu tempat membuat perasaannya makin kacau. Setibanya di tempat tujuan, Jujun menyambutnya dan mengantarkannya masuk ke rumahnya. Saat Mak Petir muncul, Bone terkejut melihat penampilannya. Seperti Bi Cicih, Mak Petir juga mengaku bahwa Bone seperti artis.
Dalam perjalanan dengan Bone, Mak Petir mengajak Bone bicara sambil membersihkan make up-nya. Bone kaget saat melihat wajah Mak Petir, muka sebelahnya tampak hitam. Lalu, Mak Petir mengajak Bone makan. Saat makan, dia bercerita tentang wajahnya, lalu ciloknya. Awal rilis, Jujun tidak bisa menjualnya, sehingga tidak ada yang membelinya. Namun, saat seorang perempuan mencoba untuk menjualnya, cilok Mak Petir laku keras. Mak Petir bukan tipe pecemburu, bahkan rela jika Bone berniat berpoligami. Dia juga memberi tahu bahwa Jujun menaksir Nadine dan dia mendoakan mereka berjodoh.
Keesokannya, Jeri prihatin dengan pengalaman kencan dengan Mak Petir. Saat Bone melontarkan pertanyaan halunya, tiba-tiba seorang perempuan menyahut. Dia Nadine, bermaksud memberikan Cilok Petir dan menyampaikan pesan Mak Petir. Lalu, Bone ingin mengantarnya pulang, tetapi perempuan itu tidak mau karena takut ketahuan Jujun.
Baru pulang sekolah, Bone diminta Jujun mengantar ibunya ke pasar. Dia mencoba berdalih, tetapi Jujun tahu bahwa dia berbohong. Jeri yang mendengar itu memberikan saran. Namun, Bone sulit menerima sarannya. Pembicaraan dengan Jeri hampir membuatnya lupa akan janjinya dengan Jujun.
Meski modal ke pasar dan ke minimarket sama, Mak Petir tidak mau ke minimarket, bahkan jika Bone yang menanggungnya. Sesampainya di pasar, dia pamer kemesraannya dengan Bone, bahkan sempat memanggil Bone dengan sebutan "say" (kependekan sayang). Saat di rumah Mak Petir, Bone melihat Nadine dan Jujun. Jujun meminta Nadine mengiris bahan-bahan cilok dengan nada lembut, tetapi meminta Bone menggoreng dan mengulek bahan-bahannya dengan nada kasar.
Malamnya, Ojos mengajak Bone taruhan sepak bola. Setelah Bone memilih tim yang didukungnya, mereka membuat perjanjian. Keesokannya, setelah ulangan, Jeri memberi tahu Bone bahwa tim yang didukung Bone menang, tetapi Bone tidak sadar sudah ditipu Ojos.
Sebelum Bone mendatangi tempat tujuannya, wakil ketua kelasnya memintanya ke ruang BK. Di ruang BK, seseorang dari luar sekolah menagih utang Jujun kepada Bone. Sebelum tahu utang Jujun berapa dan sebelum melaksanakan hukuman, Bone mendapat telepon dari kakaknya, memintanya pulang karena ayah mereka strok saat mendengar Bone pacaran dengan janda dan akan menikah.
Baru saja turun dari mobil, Bone disambut kakak-kakaknya dengan senjata masing-masing. Tiba-tiba Ojos menyarankan untuk merajam Bone. Saat salah satu kakak Bone memberi tahu bahwa ayah mereka diinfus, Bone patuh saat diminta masuk rumah. Meski sudah ditipu, dia tetap bercerita bagaimana dirinya bisa pacaran dengan Mak Petir. Setelah itu, keluarganya memberi tahunya bahwa Jujun meminta tukang kredit menagih utang ke rumah mereka.
Keesokannya, Bone dan Jeri ke toko bunga. Sesampainya di rumah Mak Petir, orang pertama yang mereka temui adalah Nadine. Hari ini Nadine pulang sekolah dengan dijemput Jujun. Lalu, Jujun keluar rumah dan sikapnya kali ini kepada Bone ramah. Saat Mak Petir keluar rumah, Bone mengajaknya putus. Mendengar itu, Mak Petir menangis sesenggukan, sedangkan Jujun bertanya alasan Bone mengajak ibunya putus. Jeri yang menjawab, tetapi jadi ribet, sehingga Bone mengangkat suara. Oleh karena mendapat kesempatan untuk terus bicara, tanpa sadar Bone ngomong ke mana-mana.
Ulah Bone membuat Jujun diam menunduk, Nadine menahan tawa, dan Mak Petir menyanyikan lagu putus cinta sambil sesenggukan. Mendengar nyanyian Mak Petir, semuanya tertawa, kecuali Jujun. Lalu, Jeri membalas nyanyian Mak Petir. Setelah dia selesai nyanyi, Mak Petir membalasnya. Bone mengajak Jeri pergi, tetapi Jeri tidak mau karena ingin mendengar Mak Petir menyelesaikan lagunya.
Selama seminggu ini Bone tidak bisa merasakan Cilok Petir dan tidak bertemu Nadine di sekolah. Dia pernah mengutus Ojos untuk membeli cilok itu. Namun, Ojos tidak dilayani karena Mak Petir ingin Bone yang membelinya sendiri. Bone pun menghibur diri dengan menonton bioskop pada malam minggu. Di sana, dia bertemu Nadine. Mereka akan menonton bioskop bersama dengan satu bungkus camilan. Sambil menunggu jam tayang filmnya, mereka makan. Bone senang karena Nadine hanya menganggap Jujun sahabat dekatnya. Sayangnya, perempuan itu tidak bisa membuat cilok.
Saat menonton film, sikap Bone kepada Nadine berbeda dengan sebelumnya. Laki-laki itu telat menjerit, tidak menerima sentuhan Nadine, dan tidak sadar filmnya sudah selesai. Dia juga tidak menawari Nadine diantar ke rumahnya. Oleh karena itu, Nadine lari sambil menangis.
Dari bioskop, Bone ke indekos Jeri. Setelah bercerita kepada Jeri, dia baru sadar dengan kebodohannya. Namun, Jeri memilih untuk tutup mata. Setelah dipancing, dia mau memberikan saran. Namun, Nadine tidak mengangkat telepon Bone. Lalu, Jeri menyarankan untuk ke rumah Nadine.
Keesokannya, Bone bersembunyi di saat Jeri berbicara dengan Nadine. Setelah Nadine pamit untuk mencari Bone, Jeri mengatakan bahwa dirinya tahu Bone bersembunyi. Dia jadi galak kepada Bone dan membela Nadine.
Saat berjalan kaki ke warung, Bone mendapat pesan bahwa Nadine tahu Bone bersembunyi. Di rumah, kakaknya memberinya cilok. Namun, tanggapan Bone datar dan meminta kakaknya itu memakan ciloknya karena dirinya sedang berpuasa. Di kamar, dia membaca surat yang ditemukannya di plastik kresek cilok.
Saat mau minta maaf, Bone kesusahan mencari Nadine. Keesokannya, dia mencoba bertanya kepada segerombolan perempuan di depan sebuah kelas. Dia baru tahu ada dua Nadine di kelas itu, bahkan sama-sama bernama Nadine Julia. Setelah membawa Nadine Julia yang dipilih asal oleh Bone, Bone kaget. Saat ingin tahu Nadine Julia satunya lagi, bukan perempuan itu juga yang dicarinya.
Setelah Bone bercerita kepada Jeri, Jeri menyarankannya untuk ke rumah Nadine. Awalnya Jeri tidak mau menemaninya. Lalu, akhirnya dia yang memohon agar diizinkan ikut.
Saat bertamu di sebuah rumah, Bone dan Jeri bertemu seorang bapak-bapak. Bapak-bapak itu menguji kesabaran Bone, apalagi Jeri. Jika benar dia ayah Nadine, Bone tidak mau menjadikannya mertuanya.
Dalam perjalanan pulang, Bone rindu Cilok Petir. Lalu, dia mengajak Jeri ke rumah Mak Petir. Sekarang, Bone tahu selama ini Mak Petir dan Nadine ke mana. Mendengar saat ini Nadine sedang nonton bareng Jujun, Bone yang tak mau ketahuan cemburu, pamit menemui Jeri yang sedang menjemur pakaian Mak Petir.
Keesokannya, Bone mendapat ide untuk Mak Petir yang sekarang kondisinya kurang sehat. Lalu, dia menyampaikan idenya itu ke Mak Petir. Setelah dia membujuk Mak Petir, Mak Petir baru setuju. Namun, Mak Petir meminta syarat. Melihat Bone kaget dengan syaratnya, dia menceritakan hal yang sebenarnya tentang Nadine. Dia juga sudah tahu kekecewaan Bone terhadap Nadine. Pada akhir pembicaraan, Mak Petir memberikan petuah tentang cinta.
Satu bulan setelah peresmian kafe Mak Petir, Bone sibuk di dapur. Hubungannya dengan Nadine kembali seperti saat pertama kali mereka bertemu.
G. Penilaian Buku
1. Kelebihan buku
a. Meski penulisnya dua orang, isinya tetap bagus.
b. Adegan komedinya keren, apalagi tingkah Ojos.
c. Kisah asal usul Cilok Petir keren.
d. Petuah Mak Petir tentang cinta keren.
e. Terdapat epilog.
2. Kekurangan buku
a. Tidak ada prakata atau kata pengantar.
b. Tidak ada daftar isi.
c. Tidak ada judul bab.
d. Saat menulis pamflet, Bone menulis "pembuat cilok", bukan pemilik cilok di bangku taman. Lalu, pada adagen selanjutnya, dia teringat bahwa pamfletnya isinya pemilik cilok di bangku taman, bukan pembuatnya.
H. Profil Penulis
1. Iwok Abqary
Orangnya lucu, terlihat dari profil yang ditulisnya. Di sana beliau menulis kegiatan di balik layar bersama teman duetnya. Pengabdi Cilok menjadi novel komedi ketiganya yang terbit di PT GPU. Dua novel sebelumnya: Ganteng is Dumb dan Gog's Love. Selain itu, beliau juga menulis teenlit kece berjudul Dandelion dan amore berjudul Laguna. Oh ya, asalnya dari Tasikmalaya.
Benar sih kata beliau, setelah membaca novel Pengabdi Cilok, saya jadi suka makan cilok—hanya cilok saus, ya—dengan cara menjilati sausnya sebelum menikmati ciloknya bersama saus. Menjijikkan, tetapi menyenangkan bagi yang pernah mengalaminya. Jika malu, makan saja di tempat tersembunyi kok.
2. Irvan Aqila
Karier menulisnya sejak lulus SMA. Novel komedi pertamanya, Sholeh on 7, berhasil ditulis dalam waktu 2 minggu. Keren, kan?. Seperti Iwok, Pengabdi Cilok menjadi novel ketiganya yang terbit di PT GPU. Novel sebelumnya: Cinta Bikin Mules (2010) dan Jaka Bukan Perjaka (2015). Selain suka menulis buku remaja, beliau juga suka menulis buku anak, misal Halal Haram Kuliner Binatang untuk Anak-Anak (PT GPU, 2018). Buku itu yang ditulisnya dengan istrinya yang berprofesi sebagai penulis juga.
Saat menulis Pengabdi Cilok, Irvan dan keluarganya tinggal di Tangerang, Prov. Banten. Mimpinya yang belum terwujud adalah menulis novel romance tanpa unsur komedi. Saya pikir orangnya tidak lucu. Ternyata lucunya ada di akhir.
I. Kesimpulan
Pengabdi Cilok merupakan novel komedi yang ditulis dua orang yang pernah menulis dua novel komedi. Salah satu dari mereka seperti Bone. Uniknya, mereka berkomunikasi secara online. Dalam novel itu, ada unsur romance-nya.
Oleh karena ciloknya sangat enak, Bone membuat sayembara pencarian pembuat (atau pemilik) ciloknya. Jika perempuan, dia akan menjadikannya pacarnya. Laki-laki kelas XII itu tidak berpikir jauh jika nanti pembuatnya seorang ibu-ibu. Yah untungnya janda, bukan istri orang.
Bertambah masalah ketika tahu ibu-ibu itu punya anak seperti preman. Bone maunya pacaran dengan pemilik cilok terenak itu yang ada di bangku taman. Namun, setelah tahu gadis itu tidak jago membuat cilok, bahkan membuat yang biasa saja tidak bisa, Bone tidak mau dekat dengannya lagi. Hanya karena itu, padahal gadis itu cantik.
Novel ini seru, apalagi ketika muncul adegan komedinya, tak terkecuali saat Bone tahu pembuat ciloknya seorang ibu-ibu. Yang paling membangkitkan tawa adalah tingkah Ojos. Ini novel pertama yang saya temukan terdapat epilognya. Ada orang yang bilang jika ada epilog, harus ada prolog. Namun, saat saya bertanya di grup, dua orang menunjukkan buku yang hanya ada epilognya, buku satu buku terjemahan dan satunya lagi buku lokal.



Komentar
Posting Komentar
Terima kasih sudah berkomentar di unggahan saya.