A. Identitas Buku
Judul : Halimun (seberkas cahaya di tanah Dayak)
Penulis : Rina TH
Penerbit : PT Grasindo
Kota terbit : Jakarta
Tahun terbit : 2014
Tebal : 208 hlm. (203 hlm. isi)
Ukuran : 13 × 19 cm
Warna kertas : Krem
B. Blurb
C. Daftar Isi
D. Sampel Cerita
E. Kutipan
"Di mana-mana itu sama saja asal kamu selalu menjaga sikap. Jangan sok di tanah orang. Hormati dan ikuti kebiasaan mereka. Sekarang semua sudah mudah. Mau pulang tinggal naik pesawat, tidak kayak dahulu. Tinggal mak weeesss ...!" ~ ayah Aya (hlm. 2—3)
"Tak ada perbedaan dalam cinta. Cinta itu murni, ia datang kepada setiap manusia tanpa pilih kasih." ~ Johan (hlm. 44)
"Melihat bintang berarti ada seseorang yang dirindukan. Menerawang jauh ke langit seperti mencoba meraih sesuatu." ~ Aya (hlm. 45)
"Luar Jawa hanya dikeruk kekayaan alamnya dengan diabaikannya pembangunan. Kalaupun ada, ya hanya sebatas formalitas. Otonomi malah menimbulkan persoalan baru. Angka korupsi makin tinggi. Sepertinya sumber daya manusia Indonesia belum siap untuk itu." ~ Erick (hlm. 55)
"Bukan risi atau merasa asing. Setiap ada yang memandanginya aneh, Aya akan membalasnya dengan menyunggingkan bibir." (hlm. 60)
"Tak ada yang sulit asal kau mau coba. Tuhan akan berikan jalan." ~ Johan (hlm. 68)
"Kalimantan memberiku banyak kejutan." ~ Aya (hlm. 86)
"Ah ... Kalimantan ... selalu membuatku terkejut ...!" ~ Aya (hlm. 115)
"Cewek yang kegeeran dijamin pasti jatuh cinta. Aku tak mau." ~ Aya (hlm. 169)
"Perbedaan keyakinan bukan berarti semuanya harus berbeda, tapi bagaimana kita bisa saling menghargai untuk hidup berdampingan secara rukun dan damai." ~ Erick (hlm. 188—189)
"Apa sih yang tak mendadak di perusahaan kita? Bos mau A, ya harus A!" ~ Johan (hlm. 190)
"Dan Allah menjadikan bumi untukmu sebagai hamparan, agar kamu dapat pergi kian kemari di jalan-jalan yang luas. (Nuh-Nabi Nuh ayat 19—20)" ~ Aya (hlm. 200)
Kutipan lainnya ada di Twitter saya, @14poetree (Poetree Malu). Anda bisa menggunakan kata kunci #HalimunRinaTH untuk mencarinya.
F. Unsur-Unsur Intrinsik
1. Subgenre: Young adult, romance
2. Tema: Perjuangan, Petualangan, Kekeluargaan, Persaudaraan
3. Tokoh-tokoh:
a. Cahaya Maharani (Aya): Sarjana Kehutanan, 22/23 tahun, karyawan junior di Bogor, berkerudung, adik angkat Rahman
b. Pak Daniel: Bos Aya
c. Rahman: Karyawan senior di Bogor, ketua tim riset perusahaan cabang di Tengah Semila, empat tahun lebih tua dari Aya
d. Amaludin (Udin): Karyawan senior di Bogor, empat tahun lebih tua dari Aya, diam-diam menghanyutkan, tim Darit
e. Erick: Karyawan keuangan di Landak, ramah, non-Islam, suka Aya, ketua tim Darit
f. Johan: Sopir, non-Islam
g. Sameon: Manajer cabang Landak
h. Puthy Megawati: Koordinator tim riset di Kebun Percobaan Sumiak, suka Erick
i. Rendra Wijayanto: Pengawas riset & pengawas tim Darit
j. Elyas: Koordinator camp Menjalin, ketua tim pengukuran dan pemetaan, orang Filipina, beruban
k. Lina: Teman kamar Aya
l. Uhe: Humas
m. Hanto: Karyawan pengukuran
n. Wahyono: Ketua tim pengukuran, baik, suka Aya
o. Kepala Dusun (Kadus) Karangan
p. Vanyo: Anak Uhe
q. Riduan: Tim Darit
r. Ruhe: Anak sulung Uhe, meninggal secara tak wajar
4. Setting: Bogor, Tangerang, Kubu Raya, Sei Pinyuh, Sengah Temila, Sumiak, Menjalin, Pauman, Saham, Darit, dan Siantan
5. POV : POV 3
G. Sinopsis
Di Bogor, Cahaya Maharani (Aya) merasa cemas sekaligus senang karena ditunjuk untuk ke Dayak dengan tujuan mengembangkan perusahaan cabang yang bergerak di bidang industri perkayuan. Saat dia masih melihat lokasi perusahaan cabang itu di Sengah Temila dengan Google Maps, Andre memberi tahu tentang jadwal rapat sebelum berangkat. Pada hari H rapat, Pak Daniel meminta Aya, Rahman, dan Amaludin (Udin) menanam sengon di beberapa kecamatan dengan Rahman sebagai ketua.
Pada hari H keberangkatan, Aya, Rahman, dan Udin naik pesawat dari Bandara Soekarno Hatta, Tangerang. Tanah Borneo tampak indah dari jendela pesawat. Sesampainya di Bandara Supadio yang terletak di Kubu Raya, mereka bertemu Erick (karyawan keuangan di Landak) dan Johan (sopir). Lokasi kantornya jauh, tetapi dekat jika dibandingkan dengan perusahaan lain.
Sekitar tujuh belas kilometer kemudian, mereka sampai di Pontianak Bersinar. Wajah penghuninya hampir didominasi oleh etnis Tionghoa. Saat istirahat, Erick merasa ada sesuatu yang lain saat matanya bertubrukan dengan mata Aya.
Satu jam kemudian, mereka istirahat di Sungai Pinyuh. Saat Udin ditanya mengapa sejak tadi diam, Udin pergi, lalu kembali seperti sedang menyembunyikan sesuatu. Akhirnya mereka sampai di tempat tujuan saat hari hampir malam. Aya merasa lega karena lingkungan kantornya tidak jauh dari peradaban.
Bagi Erick, pukul tujuh terlalu pagi untuk bangun. Jantungnya berdebar saat Aya menjelaskan tentang Halimun kepada Rahman. Lalu, Erick menyimpulkan bahwa tidak ada hubungan apa-apa antara Aya dan Rahman.
Di tempat kerja, Barabis Sameon (manajer cabang Landak) memperkenalkan diri kepada Aya dan Rahman. Saat rapat, Aya, Rahman, dan Udin diminta meneliti jenis pupuk yang cocok dengan bibit yang akan dikembangkan. Targetnya harus terpenuhi sebelum kedatangan Direktur bulan depan. Ketiganya akan melakukannya dengan tiga tim riset di Kebun Percobaan Sumiak, Sengah Temila, jaraknya 2 jam dari kantor.
Dalam perjalanan ke kebun itu, jalannya menikung-nikung dan menanjak-nanjak. Setelah sampai di tempat tujuan, rombongan itu disambut Puthy Megawati, koordinator tim riset. Aya shock culture karena tidak ada Salat Jumat di sana. Saat melihat sekumpulan celeng, dia ingin pulang.
Saat makan, Rahman mengeluarkan kucing dari pondok. Lalu, dia dan yang lainnya melihat celeng, kucing, dan anjing menari-nari halaman. Tidak lama kemudian, Pak Sameon pamit dan menyerahkan Aya, Rahman, dan Udin kepada Puthy. Puthy pun mengajak ketiganya melihat sengon. Target minggu ini adalah menanam 1.500 bibit percobaan dari tiga jenis sengon dengan lima jenis pupuk organik.
Keesokannya, mereka rapat. Pada tahun depan, mereka baru akan mulai menanam sengon, karena pada bulan Juni masih melakukan riset. Seminggu kemudian, Aya tidak jadi ke kantor dengan Rahman karena Rahman akan menemani Erick mengambil uang di Ngabang yang jaraknya 30 km. Pada akhir bulan, Rahman memberi tahu Aya bahwa Direktur tidak membutuhkannya lagi di sana, sementara di Bogor ada yang harus diselesaikannya. Aya menangis mendengarnya. Saat Rahman pamit, dia menitip Aya kepada Erick dan Puthy.
Suatu hari Direktur datang lebih awal dari jadwal dan mendadak. Diam-diam Udin mengkhianati rekan-rekan kerjanya. Direktur memutuskan bahwa Aya dipindahtugaskan ke Menjalin untuk bergabung dengan tim pengukuran dan pemetaan yang dipimpin Elyas, sedangkan Puthy dan Udin diminta memperbaiki kesalahan dengan diawasi Rendra Wijayanto. Saking marahnya, Puthy menyerahkan jabatannya kepada Udin, sedangkan Aya membenci hingga mengumpat Udin secara diam-diam. Setelah Erick ke tempat hiburan bersama Aya dan rekan-rekan kerjanya, kecuali Udin, dia akan sering mencari alasan agar bisa ke Menjalin.
Saat Johan, Erick, Aya, dan Puthy ke Menjalin, Johan dan Erick kagum dengan analisis Aya tentang bangunan yang mereka lalui, padahal kedua laki-laki itu penduduk lokal. Sejak itu Johan tertarik dengan kepribadian Aya.
Dada Erick sesak dan hatinya terbakar saat melihat Aya meninggalkannya dan berjalan beriringan dengan Wahyono, orang yang menyambut mereka. Para tamu bertemu Pak Elyas, koordinator camp sekaligus ketua tim pengukuran dan pemetaan dari Filipina. Di sini, Aya sekamar dengan Lina.
Keesokannya, Aya bertemu Uhe (humas) dan Hanto (staf pengukuran). Uhe menyarankannya untuk ikut tim mereka. Saat bertemu Wahyono (ketua tim pengukuran), Uhe memintanya mengusahakan Aya bisa ikut tim mereka.
Uhe, Hanto, dan Wahyono merasa senang karena Pak Elyas setuju jika Aya bergabung dengan tim mereka. Saat Aya dan yang lainnya meninggalkan Pak Elyas dan Lina berdua saja di camp, Aya merasa janggal.
Uhe dan Hanto sependapat bahwa Aya berbeda dengan gadis-gadis yang mereka kenal. Lalu, Wahyono mengundang Aya ke rumahnya jika Aya rindu rumahnya sendiri. Saat mengukur tanah yang akan ditanami sengon, Aya ditunjukkan bekas sarang celeng, bekas dompeng, dan anggrek tanah.
Saat pulang, para laki-laki berusaha menenangkan ayah Lina yang akan memukul Pak Elyas. Saat mendengar kalimat ayah Lina, jantung Aya ingin copot. Setelah ayah Lina menceritakan apa yang terjadi, Pak Elyas mengatakan bahwa dia salah paham. Kelakuan hinanya kepada Lina membuatnya dikenai hukum adat.
Pada akhir pekan, Aya tidak mau tinggal di camp Menjalin. Dia ingin ke kantor Sengah Temila, tetapi dua bus sudah dilewatkannya. Lalu, Uhe menawarinya tinggal di rumahnya.
Upacara adat untuk mengadili Pak Elyas diadakan di camp Menjalin. Di kantor Sengah Temila, Rendra (pengawas tim riset) kecewa dengan Erick karena tidak mengingatkannya pada acara hukum adat Pak Elyas, sehingga mengajak Erick ke sana minggu depan. Erick senang, sedangkan Puthy merengut.
Seminggu kemudian, Aya, Hanto, Wahyono, Riduan, dan dua laki-laki lain pergi ke tempat hiburan, bersamaan dengan datangnya Erick, Rendra, dan Johan. Saat pulang dan baru istirahat sejenak, Hanto mengajak Aya pulang, membuat Erick merasa kecewa. Keesokannya, Aya dan keluarga Uhe melakukan ritual adat pertanian bernama ngamalo.
Dirgarahayu Indonesia ke-66 jatuh pada bulan Ramadan. Pada malam 17 Agustus, Aya, Puthy, Wahyono, Hanto, Erick, dan Riduan tidak jadi ke panggung acara HUT RI. Sebelum pulang, Hanto bercerita bahwa dirinya beruntung dua kali setelah bermimpi Aya.
Di Sengah Temila, ada lomba celeng. Setelah melihat perlombaannya, Aya mengajak teman-teman kerjanya ke Rumah Panjang Betang, yang panjangnya ratusan meter dan umurnya ratusan tahun.
Suatu hari perusahaan tempat kerja Aya akan memperluas ekspansi. Rendra menunjuk Erick sebagai ketua tim Darit, tim awal yang akan melakukan penjajakan, mencari camp, dan sosialisasi dengan masyarakat pada Senin depan di bawah komando Sameon dan akan diawasi olehnya. Tim itu akan rangkap tugas dengan tugas sebelumnya.
Aya, Riduan, dan Udin terpilih menjadi tim Darit. Menjalin—Darit membutuhkan waktu dua jam. Sesampainya di Darit, Aya, Riduan, Udin, dan Erick mencari tempat camp. Setelah mereka hampir dikeroyok massa, Erick marah kepada Udin. Aya menenangkannya, sedangkan Riduan berbicara dengan Udin. Saat mendengar tentang masalah itu, Rendra menggantikan Udin dengan Wahyono dan Erick dengan Sameon.
Puthy meminta maaf kepada Erick karena memilih Udin untuk menjadi tim Darit. Saat dia patah hati, Erick memeluknya. Aya dan Wahyono yang melihat itu segera berbalik.
Keesokan malamnya, sikap Puthy kepada Aya berbeda. Saat dia meminta pendapat Aya tentang Erick, Aya menanyakan perasaannya, karena menurutnya, diam-diam Erick menyukai Puthy. Dia memberi tahu Puthy bahwa salah satunya harus memulai.
Saat melewati Keraton Ngabang atau Ismahayana, Riduan menjelaskan kepada Aya tentang sejarahnya. Saat Aya dan Erick saling bicara dengan diselingi tawa, hati Puthy sakit. Tiba-tiba Uhe meminta Aya menemani anak sulungnya yang baru dilihatnya lagi, berobat ke dukun.
Pada akhir pekan pertama setelah lebaran, Aya masih batuk. Di rumah Hanto, jarinya dicelupkan ke kopi oleh Hanto. Aya sempat GR bahwa Wahyono menyukainya. Lalu, mereka bertiga dan Riduan pergi ke hutan. Di sungai, Wahyono menginginkan Aya. Riduan yang pertama menyadari itu.
Saat ditunjukkan pipa-pipa di sungai, Aya diminta untuk membantu warga dengan membuat proposal ke Pemerintah. Penjelasannya pun membuat Riduan mengatakan dirinya cinta Aya.
Suatu hari Aya dan Wahyono pergi ke replika tugu khatulistiwa di Siantan. Mereka juga ingin melihat momen terjadinya titik kulminasi matahari.
Aya merasa seperti alien saat sosialisasi dengan masyarakat dilakukan di gereja. Setelah berdoa, Wahyono yang duduk di kursi paling depan merasa cemburu dengan Erick. Saat pulang, Aya dan Erick berbicara tentang surat undangan formal yang pembukaannya menggunakan salam umat Islam. Mereka dan Johan mampir ke rumah Uhe dan Hanto sebelum mengantar Aya ke bandara. Uhe sempat menanyakan pendapat Aya tentang Wahyono.
Saat melanjutkan perjalanan, Johan menawarkan kepada Aya untuk mengungkapkan keinginannya mengunjungi suatu tempat sebelum kembali ke Bogor. Di bandara, saat Johan izin ke suatu tempat, Aya memberi tahu Erick bahwa Puthy sangat mencintainya. Lalu, Erick mengungkapkan perasaannya.
Dua bulan kemudian, Aya mendapat kabar tentang Ruhe, anak sulung Uhe. Banyak hal janggal saat Uhe melakukan upacara keramat untuk anaknya itu.
H. Penilaian Buku
1. Kelebihan buku
a. Aya satu-satunya junior yang dikirim ke Kalimantan untuk riset sengon.
b. Aya yang biasa tinggal di lingkungan mayoritas, kini harus beradaptasi di lingkungan minoritas.
c. Kita akan mengetahui banyak hal tentang Borneo, misalnya alam, kondisi infrakstrutur, tradisi, hiburan, bahasa, dan peninggalan.
d. Dibumbui kisah cinta, kekeluargaan, dan persaudaraan.
e. Ceritanya diolah dengan baik dan menarik.
2. Kekurangan buku
a. Tidak ada prakata atau kata pengantar.
b. Minim adegan hujan.
c. Salah sebut tempat. Harusnya di Tangerang, malah Jakarta, harusnya di Kubu Raya, malah di Pontianak. Beda kasus kalau memakai POV 1, karena pasti berdasarkan pengetahuan tokoh "aku". Namun, kemudian aku mengerti, sepertinya penulis ingin menciptakan dialog tentang kekeliruan itu.
I. Profil Penulis
Rina TH (Tri Handayani) memiliki kecintaan pada membaca, sehingga secara tidak langsung membuatnya cinta pada menulis. Saat SMA, dia mengikuti ekstra jurnalistik yang dibimbing oleh mantan-mantan wartawan. Teman-temannya sering memintanya menulis cerita mereka dalam bentuk cerpen.
Saat kuliah, Rina bekerja secara part time sebagai kontributor data untuk proyek penulisan buku oleh Boxteam. Tulisannya juga pernah dimuat di harian Equatornews, majalah lokal, dan tabloid Bola. Penulis favoritnya adalah Pramoedya Ananta Toer dan Hanum Salsabila Rais. Kita dapat berinteraksi dengannya lewat email rinatriha@gmail.com atau Twitter rina_uhuru77.
J. Kesimpulan
Novel Halimun fokus pada pekerjaan dan pengenalan tanah Dayak (Borneo) kepada Aya. Perempuan itu menjadi satu-satunya junior yang dikirim ke perusahaan cabang di Sengah Temila untuk riset sengon bersama dua teman kerja laki-lakinya. Setelah Rahman dipanggil untuk kembali ke Bogor, Udin malah membuat ulah hingga semua rekan kerjanya marah kepadanya, tak terkecuali Aya. Lalu, Aya dipindahtugaskan ke Menjalin untuk bergabung dengan tim pengukuran dan pemetaan.
Aya disetujui untuk bergabung dengan tim pengukuran bersama Wahyono sebagai ketua, Uhe, dan Hanto. Sang koordinator di Menjalin yang membuat kerusuhan akhirnya dikenai hukum adat. Aya yang takut tidur di camp itu, ditawari Uhe untuk tidur di rumahnya. Teman-teman kerja barunya membuatnya mengenal Borneo dengan baik hingga dia merasa nyaman.
Novel ini sungguh menarik. Kondisi Borneo berbeda dengan Jawa. Ada penilaian yang salah dari orang luar Borneo terhadap orang lokal. Selain dikenalkan berbagai hal tentang Borneo, Aya juga belajar hal lain dengan teman-teman kerjanya.




Komentar
Posting Komentar
Terima kasih sudah berkomentar di unggahan saya.